adf.ly - shorten links and earn money!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 12 Mei 2012

Contoh dan Deskripsi Desa Siaga Aktif

DESA SIAGA AKTIF MEWUJUDKAN ANAK INDONESIA SEHAT,KREATIF DAN BERAKLAK MULIA MENUJU KERINCI SEHAT DAN MANDIRI

VISI: Sehat dan Mandiri 2014
MISI:
1. Menggerakkan Pembangunan Daerah Berwawasan Kesehatan
2. Mendorong Kemandirian untuk Hidup Sehat
3. Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Bermtu dan Terjangkau
4. Memelihara dan Meningkatkan Kesehatan Individu Keluarga Masyarakat
Serta Lingkungan
5. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan Kesehatan
Prioritas Program Kegiatan
1. Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin
- Pengutan tim verifikasi dasar
- Dukungan pemda tentang kuota diluar Jamkesmas
- Pemantauan yang efektif tentang Jamkesmas
Jamkesda ....... 10.000/jiwa/bulan
2. Desa siaga
3. Pengendalian penyakit menular
Kesling harus melibatkan masyarakat
Antisipasi KLB
4. Pelayanan kesehatan daerah terpencil atau perbatasan
5. Pemberdayaan masyarakat dalam PHBS
6. Peningkatan kinerja lintas sektor
KEBIJAKAN NASIONAL DESA SIAGA
SEBAGAI PROSES MENUJU MASYARAKAT SEHAT
INDONESIA SEHAT
adalah gambaran masyarakat Indonesia masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni masyarakat yang hidup dengan perilaku sehat, dalam lingkungan sehat, dan memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
MASYARAKAT YANG MANDIRI UNTUK HIDUP SEHAT
adalah suatu kondisi dimana masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan oleh penyakit termasuk gangguan kesehatan oleh penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
MEMBUAT RAKYAT SEHAT
Departemen Kesehatan harus mampu sebagai penggerak dan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat termasuk swasta, untuk membuat rakyat sehat, baik fisik, sosial, maupun mental/jiwanya
DESA SIAGA KEPMENKES NO. 564/MENKES/SK/VIII/2006
adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah/ancaman kesehatan (termasuk bencana dan kegawat-daruratan kesehatan) secara mandiri dalam rangka mewujudkan desa sehat
(Desa = Kelurahan = atau yang sepadan)
TUJUAN DESA SIAGA
TUJUAN UMUM: terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli & tanggap terhadap permasalahan kesehatan diwilayanya
TUJUAN KHUSUS:
1. Meningkatya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang
pentingnya kesehatan
2. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap
risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana,
wabah, darurat dan sebagainya)
3. Meningkatnya keluarga sadar gizi & ber-PHBS
4. Meningkatnya kesehatan lingkungan desa
5. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong
dirinya sendiri di bidang kesehatan
SASARAN PENGEMBANGAN DESA SIAGA
1. Semua individu & keluarga di desa, yang diharapkan mampu
melaksanakan hidup sehat, peduli & tanggap terhadap permasalahan
kesehatan diwilayah desanya
2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku individu &
keluarga di desa atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi
perubahan perilaku tersebut (yaitu tokoh masyarakat, tokoh agama,
tokoh perempuan, tokoh pemuda, kader desa, dll)
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan,
peraturan per-uu-an, dana, tenaga, sarana, dll (yaitu kepala desa,
camat, pejabat pemerintah lainnya, dunia usaha, donatur &
stakeholders lain)
Key word batasan Desa Siaga
- Kesiapan sumber daya
- Mampu dan mau
- Mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawat
daruratan secara mandiri
Kesiapan:
- Tersedia
- Cukup (misal untuk Poskesdes dikaitkan dengan jumlah penduduk)
- Akses
- Kompetensi
Sumber daya:
- SDM
- Prasarana
- Sarana
Kata kerja: (proses)
- Alih pengetahuan & olah ketrampilan
- Mencegah
- Survailans / pengamatan, pemantauan
- Tanggap risiko/ kedaruratan/bencana (simulasi, latihan)Self care
Substansi meliputi:
- KIA
- gizi
- lingkungan
- penyakit (M & TM)
- Perilaku
Kegiatan dapat diukur dengan tingkatan:
- Tahap 1: Ada Tim, Ada SOP/ mekanisme
- Tahap 2: Ada kegiatan/simulasi diukur dalam periode waktu,
Frekuensi dalam periode tertentu dengan kualitas tertentu
- Tahap 3: ada sikap kepedulian, ada ketanggapan masyarakat yang cukup
- Tahap 4: Masyarakat berperilaku sehat
Mandiri:
- Komitmen masyarakat
- Sumberdaya sosial (interaksi, networking)
- Sustainability (periode tahunan)
Urutan dari Input - Outcome
- Input: Sumberdaya
- Proses: Mampu dan mau
- Output: Sikap Peduli dan tanggap
- Outcome: Perilaku sehat
Desa Siaga
- Memiliki minimal 1 (satu)POSKESDES) Bukan artian fisik tetapi yang
penting adalah akses yankes terhadap masyarakat
POS KESEHATAN DESA
Adalah suatu upaya kesehatn bersumber daya masyarakat (UKBM) yang melaksanakan kegiatan-kegiatan minimal
1. Pengamatan Epidemiologis penyakit menular & yang berpotensi
menjadi KLB serta faktor-faktor resikonya
2. Penanggulangan penyakit menular & yang berpotensi menjadi KLB
serta kekurangan gizi
3. Kesiap siagaan & penanggulangan bencana & kegawat daruratan
kesehatan
4. Pelayanan kesehatan dasar,sesuai dengan kompetensinya (jika dekat
dengan Puskesmas/Pustu, diambil alih oleh Puskesmas/Pustu)
Kegiatan-kegiatan lain yaitu promosi kesehatan untuk Kadarzi dan perilaku hidup bersih & sehat (PHBS), penyehatan lingkungan, dll merupakan kegiatan pengembangan
Sumber Daya Poskesdes
Tenaga: Minimal 1 (satu) orang bidan & 2 (dua) orang kader
sarana: fisik bangunan, perlengkapan & peralatan alat komunikasi ke masyasrakat & ke puskesmas
alternatif pembangunan poskesdes
1. polindes yng dikembangkan menjadi poskesdes
2. memanfaatkan bangunan lain yg sudah ada (misal: balai desa)
3. di bangun baru,dengan alternatif:
A. oleh pemerintah (pusat & daerah)
B. oleh donatur
C. oleh dunia usaha
D. swadaya masyarakat
pos kesehatan desa (poskesdes)
poskesdes: suatu wujud UKBM yg dibentuk di desa yg tidak memiliki akses thd puskesmas/pustu,dalam rangka menyediakan/mendekatkan yankes dasar bagi masyarakat desa
pelayanannya:upaya2 promotif,preventif,dan kuratif yg dilaksanakan oleh nakes dg melibatkan kader atau tenaga sukarala lain
sasaranya: ibu,bayi,anak balita, wanita usia subur,usila dan masyarakat lainnya.
tujuannya: meningkatkan jangkauan & mutu yankes dasar. meningkatkan pembinaan thd kader. meningkatnya kesepatan memberikan penyuluhan & dan konseling kpd masyarakat. meningkatnya cakupan yankes dasar.
surveilans berbasis masyarakat
pengertian: adalah pemantauan yg dilakukan masy terhadap maslah2 kes,gizi & kesling yg mempengaruhi atau menyebabkan masalah kes di masy selanjutnya dilaporkan kpd petugas kes/unityg bertanggung jawab untuk pengambilan tindakan penanggulangan
tujuan umum: terselenggaranya surveilans penyakit & dan faktor resiko yg berbasis masyarakat sbg kewaspadaan & kesiap siagaan thd kemungkinan terjadinya masalah2 kesehatan.
tujuan khusus: masyarakat mengetahui tanda2 masalah kes & faktor resiko di wilayah desa secara dini.masy melaporkan tanda2 maslah kes& faktor2 resiko di wilayah desa secara dini
kesiapsiagaan & penanggulangan kegawatdaruratan & bencana
pengertian: upaya yg dilakukan oleh masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kegawatdaruratan sehari hari dan bencana mell langkah yg tepat guna & berdaya guna bagi masy di desa
tujuan: masy mampu mengenali, mengurangi& dan mencegah faktor2 yg dapat menimbulkan masalah kes dan kegawatdaruratan se-hari2
hal2 yg harus dilakukan masyarakat:
-mengenal kondisi lingkungan desa
-mengenal kondisi yg dapat menimbulkan masalah kes
-melakukan kegiatan pencegahan & dan promosi kes
-meningkatkan kemampuan penanganan kegawatdaruratan
-melaporkan masalah2 kes kpd petugas kes
dengan phbs kita wujudkan desa sehat,keluarga sehat
pengembangan kadarzi
pengertian: pengembangan kelg yg berperilaku gizi seimbang,mampu mengenali & dan mengatasi masalah2 gizi anggota keluarganya
tujuan: - meningkatkan pengetahuan,sikap & perilaku keluarga ttg gizi seimbang
-meningkatkan kemampuan kelg utk mengenali & memanfaatkan sumber daya yang ada
-meningkatkan keadaan gizi keluarga
sasaran: - keluarga
langkah2 kegiatan:- persiapan tk kecamatan & dan tk desa
-pelatihan & pelaksaan survei mawas diri
-penentuan prioritas & musayawarah desa
-pelatihan kader & dan pelaksaan kie
langkah2 pengembangan desa siaga untuk menumbuhkan demand side
persiapan petugas persiapan masyarakat telah/survey mawas diri musyawarah masyarakat desa pelaksanaan kegiatan pembinaan dan peningkatan
langkah2 pengembangan desa siaga(1)
persiapan petugas mempersiapkan petugas2 puskesmas & dan jaringannya (sosialisasi/pertemuan/pelatihan) untuk konsolidasi
persiapan masyarakat: mempersiapkan pemuka2 masy,lembaga2 masy yg ada
& dan masyarakat agar mereka memahami & mau mendukung pengembangan desa siaga (termasuk advokasi)
langkah2 pengembangan desa siaga (2)
.survei mawas diri (SMD)
dikenal juga dgn telaah mawas diri (community self survey) adalah survei yg dilakukan oleh masyarakat dg bimbingan fasilitator agar mereka sadar akan masalah kes yg dihdapi & potensi2 yg mereka miliki untuk mengatasi masalah2 tsb
langkah2 pengembangan desa siaga (2)
. musyawarah masyarakat desa (MMD)
menyusun prioritas masalah2,mendiagnosis penyebabnya,mencari alternatif yang paling layak
. pelaksanaan kegiatan
-pemilihan pengurus & kader desa siaga
-orientasi/pelatihan kader
-pengembangan/pembangunan pelayanan kes dasar brbasis masy yg dibuthkan(TMSK poskesdes)
-penyelenggaraan kegiatan2 desa siaga
langkah2 pengembangan desa siaga(2)
.pembinaan & peningkatan
-pengembangan jejaring kerjasama antar-UKBM dan antar desa siaga serta antar sektor
-membantu kader yg membutuhkan untuk mengembangkan stuktur pendapatannya
-mengembangkan penghargaan2 (rewards)
-mengembangkan & melaksanakan sistem pencatatan & pelaporan
peran jajaran kesehatan,stakeholders lain,masyarakat
.peran jajaran kesehatan
.peran stakeholder terkait
.peran masyarakat
peran puskesmas peran rumah sakit peran dinkes kab/kota peran dinkes provinsi peran departemen kesehatan peran stakeholder terkait
peran stakeholder terkait (1)
ditingkat pusat:-berperan serta dlm tim pengembangan desa siaga tk pusat
-memberikan dukungan sumber daya(manusia,dana,dll)utk pelaksanaan peran pusat dalam pengembangan desa siaga
di tingkat provinsi:-berperan serta dalam tim pengembang desa siaga tk prov
-memberikan dukungan kebijakan & dan sumber daya dlm rangka pengembangan desa siaga dan pembinaan kelestariannya
di tingkat kab/kota:
-berperan serta dalam tim pengembang desa siaga kab/kota
-berperan serta menggerakkan masyarakat desa utk mengembangkan desa siaga
-memberikan dukungan kebijakan & sumber daya dlm rangka pengembangan & pelestarian desa siaga
peran stakeholder terkait (2)
rumah sakit dan puskesmas:
.rumah sakit:
-meningkatkan perannya terutama menjadi rs ponek
-menjadi tempat pembelajaran di desa
-rujukan
puskesmas:
-meningkatkan peranannya terutama menjadi puskesmas poned
-memfasilitasi kegiatan kader dan toma di desa siaga/poskesdes
-menggerakkan masyarakat sesuai fungsi ketiga
peran stakeholders terkait (3)
di tingkat kecamatan;
tim penggerak pkk:aktif dalam penyelenggaraan ukbm2 di desa siaga. penyuluhan & dan menggerakkan masy
tokoh masyarakat:-menggali sumber daya untuk kelestarian desa siaga
-menaungi & membina kegiatan2 desa siaga
-menggerakkan masy
lsm/dunia usaha:-aktif dlm penyelenggaraan ukbm2 di desa siaga
-memberikan dukungan sarana & dana untuk pelaksanaan kegiatan2 desa siaga
peran masyarakat?
masy berperan sbg subyek dlm pengembangan & penyelenggaraan desa siaga
.dlm hal ini masy harus memiliki pengetahuan/kesadaran,sikap & perilaku utk terlibat aktif (tahu,mau & mampu) mencegah & dan mengatasi masalah2 kes individu,keluarga/kelompok & masyarakat umum di desanya
desa siaga: dari ,oleh & untuk masyarakat desa
langkah2 pengembangan desa siaga
persiapan
pusat: -penyusunan pedoman
-pembuatan modul pelatihan
-pelatihan pelatih(tenaga prov)
provinsi: -pelatihan pelatih (tenaga kab/kota)
-pelatihan fasilitator
kab/kota: pelatihan tenaga kesehatan(bidan) & kader
langkah2 pengembangan desa siaga
pelaksanaan
pusat:penyedian dana & dan dukungan sumber daya lain
provinsi: penyedian dana& dan dukungan sumberdaya lain
kab/kota: penyedian dana & dukungan sumber daya lain,serta penyiapan puskesmas & rs u/ penangulangan bencana & kegawatdaruratan kes
kecamatan: pengembangan & pembinaan desa siaga
langkah2 pengembangan desa siaga
pemantauan & evaluasi
pusat: memantau & mengevaluasi
provinsi: memantau & melaporkan perkembangan ke pusat
kab/kota: memantau & dan melapokan perkembangan ke provinsi
kecamatan: melakukan pemantauan wilayah setempat (PWS) & dan melaporkan perkembangan ke kab/kota
indikator keberhasilan pengembangan desa siaga (1)
-indikator masukan (input):
.ada/tidaknya forum masyarakat desa
.ada/tidaknya sarana yankes dasar (bagi desa yg tidak punya akses puskesmas/pustu ada tidaknya poskesdes & bangunannya)
.ada/tidaknya ukbm lain yg dibutuhkan
.ada/tidaknya tenaga kesehatan minimal badan
-indikator proses (process):
.frekuensi pertemuan forum masyarakat desa
.berfungsi/tidaknya yankes dasar/poskesdes
.berfungsi/tidaknya ukbm yg ada
.berfungsi/tidaknyasistem kesiapsiagaan & penanggulangan kegawatdaruratan & bencana
.berfungsi/tidaknya sistem surveilans berbasis masy
.ada/tidaknya keg promosi kes utk kadarzi & phbs
INDIKATOR KEBERHASILAN
PENGEMBANGAN DESA SIAGA (2)
INDIKATOR KELUARAN (OUTPUT):
- CAKUPAN YANKES DASAR/POSKESDES
- CAKUPAN PELAYANAN UKBM2 LAIN
- JML KASUS KEGAWATDARURATAN & KEJADIAN LUAR
BIASA (KLB) YG DILAPORKAN
- CAKUPAN RUMAH TANGGA YG MENDPT PROMOSI KES
UTK KADARZI & PHBS
INDIKATOR DAMPAK (OUTCOME):
- JML YG MENDERITA SAKIT (KESAKITAN KASAR)
- JML YG MENDERITA GANGGUAN JIWA
- JML IBU MELAHIRKAN YG MENINGGAL DUNIA
- JML BAYI & BALITA YG MENINGGAL DUNIA
- JML BALITA DENGAN GIZI BURUK
(INDIKATOR DAMPAK TIDAK DAPAT DIAKIBATKAN HANYA
KARENA ADANYA DESA SIAGA SAJA!)
Pendanaan Desa Siaga
Daerah:
Dekonsentrasi untuk:
Manajemen Desa Siaga di Prov & Kab
Operasional Poskesdes/Desa Siaga
TP untuk Alkes Desa Siaga
DAK: Untuk fisik bangunan dan Alkes Poskesdes
APBD I: Koordinasi pengembangan Desa Siaga
APBD II: operasionalisasi Desa Siaga untuk
kesinambungannya.
Dimungkinkan dari bantuan legal dari masyarakat termasuk dunia usaha (CSR), LSM, dsb.

Diare / Mencret : Tidak Boleh Disepelekan Dokter Atau Orang Tua

Diare adalah salah satu penyebab kematian terbanyak

Seorang Ibu muda mengeluhkan pola buang air besar bayinya yang baru berusia 7 hari. Selama satu hari, katanya, putranya sudah 6 kali buang air besar dan fesesnya cenderung berair. Ibu muda itu sangat mencemaskan hal tersebut.
Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.  sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak


Gambar 1. Diare salah satu penyebab kematian terbanyak pada anak 






Benarkah anak menderita diare ?

Diare berarti meningkatnya frekuensi buang air biasa melampaui kebiasaannya atau perubahan feses bayi menjadi cair atau lebih lunak daripada biasanya. Bayi yang berusia kurang dari satu bulan biasanya sering buang air besar. Frekuensi buang air besar sehari bisa mencapai 5-7 kali dan hal itu masih dikatakan normal pada bayi pada usia bulan pertamanya. Karena itu, apa yang dikeluhkan oleh Ibu muda tadi sebenarnya hal yang normal, bukan diare dan bukan hal yang harus dicemaskan. Namun, apabila bayi mengalami perubahan yang sangat menonjol dalam pola buang air besarnya, baik frekuensi maupun keenceran fesesnya, maka sangat mungkin memang bayi tersebut menderita diare dan tentu saja harus dikonsultasikan ke dokter anak. Diare pada bayi muda umumnya adalah pertanda adanya infeksi yang berbahaya.     
Dengan bertambahnya umur, maka frekuensi buang air besar pada bayi akan semakin berkurang. Demikian pula kepadatan fesesnya akan meningkat (lebih padat). Pada anak yang lebih besar, feses akan berbentuk dan frekuensinya umumnya 1 sampai 3 kali sehari. Apabila frekuensi buang air besar meningkat atau feses anak menjadi lebih encer daripada biasanya maka anak disebut menderita diare. 

Antara kewaspadaan dan kepanikan

Diare harus diwaspadai, karena ia adalah penyakit yang berbahaya, namun tentu saja kekhawatiran tidak sama dengan kepanikan. Agar tidak kehilangan kewaspadaan tetapi juga tidak jatuh pada kepanikan yang tak proporsional, orang tua perlu mengenal dengan baik apa pengertian diare dan juga tanda bahaya dari penyakit ini. Pada bagian selanjutnya tulisan ini akan dipaparkan beberapa ancaman bahaya yang perlu dikenal orang tua dengan baik.

Tanda Bahaya Umum

             Tanda bahaya umum yang harus diwaspadai pada anak dengan diare adalah :
1. Tidak sadar                    : karena dehidrasi berat atau infeksi intrakranial (ensefalitis 
                                            atau meningitis)
2. Kejang                           : karena gangguan keseimbangan elektrolit berat, misalnya
                                            hipernatremia atau infeksi intrakranial
3. Memuntahkan semuanya : dapat menyebabkan dehidrasi atau pemberatan dehidrasi

Gambar 2 : Menawarkan minuman (Sumber : ICATT)
 
Keterangan gambar 2: Anak yang mengalami penurunan kesadaran tidak merespons jika ditawari minum. Bandingkan dengan anak tak dehidrasi (minum wajar) dan anak dengan dehidrasi tak berat (minum lahap)

Gambar 3. Menuntahkan semuanya (Sumber ICATT)
  
Keterangan : Anak yang memuntahkan semua yang diberikan harus dirujuk ke fasilitas kesehatan dengan rawat inap karena sangat berisiko untuk mengalami dehidrasi atau memperburuk derajad dehidrasinya. 

Dehidrasi, ancaman bahaya yang paling umum

            Anak yang mengalami diare berarti potensial kehilangan cairan tubuhnya dan elektrolit yang ikut terbawa bersama kehilangan cairan tersebut. Elektrolit adalah garam-garam yang sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas semua proses normal di dalam tubuh. Kekurangan atau kekurangan elektrolit tertentu akan mengganggu proses-proses normal dalam tubuh. Karenanya kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah yang cukup besar adalah hal yang berbahaya, yang disebut dengan dehidrasi.
            Dalam banyak hal, ancaman bahaya yang paling penting pada anak diare adalah dehidrasi, karena dehidrasi dapat menimbulkan syok hipovolumik, gangguan metabolisme akibat darahnya menjadi terlalu asam (asidosis), gangguan lain akibat kekurangan garam kalium misalnya, atau bahkan dapat terjadi kejang jika anak mengalami kelebihan garam natrium.
            Dehidrasi dapat terjadi pada anak yang mengalami diare jika selama diare anak tidak minum cukup banyak untuk menggantikan cairan yang keluar. Apalagi jika diare disertai dengan muntah, sehingga anak mengalami kesulitan minum atau takut untuk minum. Banyaknya cairan yang keluar harus diganti dengan asupan cairan yang banyak juga. Keseimbangan harus dijaga, karenanya pertolongan pertama pada setiap anak yang menderita diare adalah minum yang banyak. Jangan lupa pula, karena kehilangan cairan dalam diare selalu disertai dengan kehilangan elektrolit, maka anak juga perlu mendapat penggantian elektrolit yang hilang. Oralit dengan berbagai merek merupakan cairan rehidrasi atau pencegah dehidrasi yang terbaik dan telah tersedia di apotek maupun took obat. Cairan elektrolit juga tersedia dalam kemasan botol, namun jangan dikelirukan dengan minuman elektrolit yang diproduksi sebagai minuman olahraga. Anak yang belum mengalami dehidrasi boleh mengganti oralit dengan banyak minum, meningkatkan minum ASI atau memperbanyak kuah sop.
            Apabila anak mengalami kesulitan minum oralit, pada keadaan tertentu akan dibantu dengan selang atau pipa nasogastrik (NGT), jadi oralit langsung dimasukkan ke dalam lambung. Usaha ini dimaksudkan untuk mengatasi dehidrasi tak berat (dehidrasi ringan – sedang) agar anak tidak jatuh kedalam dehidrasi berat. Apabila pemberian cairan rehidrasi melalui pipa nasogastrik tidak berhasil atau anak muntah terus, maka infus menjadi pilihan cara untuk melakukan rehidrasi.  

Diare pada bayi muda selalu dianggap berbahaya

Diare pada bayi yang berusia 0-2 bulan selalu dianggap berbahaya, terutama jika terjadi pada empat minggu pertama kehidupan. Diare pada usia ini seringkali merupakan pertanda adanya infeksi yang berat. Kalaupun tidak, dehidrasi yang terjadi pada kelompok usia ini lebih berbahaya bila dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua. Karenanya, orang tua perlu mengenali pola buang air besar normal pada bayi dan juga selalu waspada apabila bayi muda menderita diare.

Diare dengan feses bercampur darah

Feses yang bercampur bercak darah merupakan tanda klinis adanya disenteri. Umumnya disebabkan oleh bakteri shigela, namun dapat juga disebabkan oleh amoeba. Disenteri memerlukan antibiotika atau anti amoeba, sedangkan diare lain umumnya tidak memerlukan pemberian obat-obat ini. Disenteri yang tidak mendapat antibiotika mungkin akan menjadi berkepanjangan. Apabila melampaui 2 minggu, diare ini akan disebut dengan diare persisten. Diare yang berkepanjangan akan menyebabkan masalah nutrisi pada anak, karena anak menjadi malas makan dan juga dapat menyebabkan penyerapan sari makanan kurang baik. Akibatnya, anak dapat menderita gizi kurang dan bukan tidak mungkin akan jatuh ke dalam gizi buruk.
Seorang anak yang mengalami gizi kurang atau atau gzi buruk cenderung untuk mengalami infeksi dan sebaliknya infeksi yang berulang pada seorang anak akan mengganggu nutrisinya. Inilah lingkaran setan antara masalah gizi dan infeksi pada anak. Lingkaran setan ini harus diputuskan dengan pengobatan diare secara tepat dan penanganan nuturisi yang memadai. Pengenalan diare yang disebabkan oleh infeksi dan penanganannya harus menjadi perhatian bersama dokter dan orang tua.
Adanya darah dalam feses anak seringkali kurang dikenali oleh orang tua, karena jumlah darah biasanya tidak cukup banyak, mungkin hanya bercak-bercak saja. Karenanya, apabila anak diare, orang tua perlu mencermati kemungkinan adanya darah dalam feses, selain frekuensi dan bentuk fesesnya. Darah tidak selalu dapat ditemukan pada feses anak yang mengalami disenteri, karenanya setiap buang air besar, feses perlu diamati warnanya.

Diare dengan demam tinggi

               Demam tinggi juga dapat menjadi pertanda adanya diare karena infeksi bakterial yang memerlukan antibiotika. Demam yang tidak tinggi dan tidak adanya darah dalam feses biasanya menunjukkan, bahwa diare tidak disebabkan oleh bakteri dan tidak memerlukan antibiotika. Namun demikian, seperti dijelaskan di depan, masih ada ancaman bahaya lain pada setiap anak diare, yakni dehidrasi. Jadi pencegahan dehidrasi atau mengatasi dehidrasi harus menjadi perhatian pada setiap anak dengan keluhan diare.
  
Bagaimana Dokter Menentukan Derajad Dehidrasi ?
            Ada beberapa cara menentukanderajad dehidrasi, di antaranya adalah :
1. Memerhitungkan kehilangan berat badan. Cara ini sulit dilakukan, karena berat badan anak sebelum sakit belum tentu diketahui
2. Skor Maurice King
3. Menurut MTBS dan WHO
             Menurut MTBS dan WHO, 4 tanda dehidrasi yang perlu diperiksa adalah : keadaan umum (letargi, tidak merespons minuman, gelisah atau baik) ; rasa haus (tak merespons minuman, lahap atau biasa), elastisitas kulit (cubitan kulit perut kembali sangat lambat, lambat atau normal) dan mata cekung (ada atau tidak). Dengan panduan MTBS dan dengan kerja sama dengan keluarga pasien, dokter atau paramedis dapat menentukan derajad dehidrasi anak.. Gambar 4 dan 5 menngambarkan bagaimana pemeriksaan elastisitas kulit dan mata cekung.    

Gambar 4. Pemeriksaan elastisitas kulit

 
Gambar 5. Mata Cekung


Pengobatan diare yang benar

Pencegahan dehidrasi atau mengatasi dehidrasi yangt sudah terjadi adalah pengobatan yang terbaik untuk anak yang menderita diare. Anak perlu minum lebih banyak daripada biasanya. Pemberian ASI harus dilanjutkan. Oralit atau cairan elektrolit lain diberikan sesuai dengan status dehidrasi anak. Eloknya, ternyata secara fisiologis pemberian oralit juga akan membantu mempercepat berhentinya diare. Pemberian makanan juga dilanjutkan. Antibiotika hanya diberikan jika diare disebabkan oleh bakteri seperti telah dibicarakan di depan. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat justru dapat memacu atau memperberat diare. Penelitian mengenai hal ini banyak dilakukan para ahli. Bila berminat, silakan membaca artikel yang bertopik "diare akibat penggunaan antibiotika" atau menggunakan kata kunci "antibiotic-associated diarrhea" jika akan menelusuri artikel ilmiah yang tersebar di berbagai sumber di dunia internet.

  
Perlukah obat anti diare diberikan?
           
Diare pada anak tidak memerlukan obat-obat anti diare. Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa obat anti diare tidak bermanfaat untuk diare pada anak, bahkan justru dapat menyebabkan munculnya ancaman bahaya baru pada anak. Bahaya yang dapat terjadi akibat pemberian obat anti diare adalah usus yang berhenti bekerja atau mengalami intususepsi, yakni adanya bagian usus yang masuk dan terjepit bagian usus di bawahnya.  Intususepsi pada beberapa kasus dapat membaik secara spontan, atau membaik dengan pemeriksaan radiologi yang sekaligus menjadi terapi. Sayangnya, pada sebagian kasus yang lain, intususepsi hanya dapat diterapi dengan operasi. Karenanya, pemberian antidiare saat ini tidak direkomendasikan, baik obat antidiare yang dimaksudkan untuk segera menghentikan diare dengan cara mengurangi gerakan usus  atau dengan meningkatkan penyerapan cairan usus.     


Obat-obat baru untuk diare

            Zink merupakan obat yang relatif baru dalam pengobatan diare. Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa pemberian zink bermanfaat dalam pengobatan diare karena membantu mempercepat berhentinya diare secara tidak langsung melalui perbaikan kondisi usus. Zink juga perlu diberikan pada anak diare karena selama diare anak juga kehilangan zink bersama dengan hilangnya cairan dan elektrolit akibat keluarnya feses yang berlebihan, padahal telah diketahui sebelumnya, bahwa zink sangat bermanfaat untuk sistem imunitas tubuh dan sangat berperan dalam tumbuh kembang anak. Jadi suplementasi zink sekarang harus diberikan pada anak yang mengalami diare, baik diare karena virus maupun diare bakterial, baik diarenya akut maupun kronik. Berita baiknya, sediaan zink tidak termasuk obat mahal. Zink tersedia dalam sediaan tablet yang mudah hancur jika d imasukkan ke dalam satu sendok air. Umumnya anak berusia satu tahun ke atas akan mendapat zink 20 mg setiap hari selama 10 hari untuk memperbaiki diarenya, mencegah berulangnya diare dalam tiga bulan ke depan dan memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak.Pemberian zink telah direkomendasikan Departemen Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan organisasi kesehatan sedunia (WHO).
            Probiotik juga merupakan konsep pengobatan yang relatif baru. Sayangnya obat ini tergolong mahal, sehingga walaupun sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat pemberian probiotik, obat ini belum masuk dalam rekomendasi resmi WHO. Probiotik dapat diberikan pada anak yang menderita diare bersama-sama dengan pemberian zink dan cairan elektrolit. Anak yang menderita diare yang berhubungan dengan penggunaan antibiotika yang tidak tepat sangat baik jika mrendapat tambahan terapi dengan probiotik ini. Dalam hal ini probiotik yang dimaksud adalah probiotik yang dikemas dengan cara khusus dengan dosis atau kandungan kuman dalam jumlah tertentu, jadi bukan dalam bentuk minuman sehat atau susu. 


Pencegahan Diare

             Tujuh upaya yang telah terbukti efektif mencegah diare adalah :  
1. Pemberian ASI
2. Memperbaiki makanan sapihan
3. Menggunakan air bersih yang cukup banyak
4. Kebiasaan mencuci tangan
5. Menggunakan jamban keluarga
6. Cara membuang tinja yang baik dan benar (termasuk tinja bayi)
7. Imunisasi campak (1-7% diare berhubungan dengan campak, diare yang terjadi pada anak dengan campak lebih sulit diobati dan cenderung lebih lama dan lebih berat) 

Beberapa Mitos dan Praktek Masyarakat yang Perlu Dikoreksi

1. Diare adalah tanda bayi atau anak akan mendapatkan peningkatan kepandaian 
    Diare adalah gejala adanya infeksi atau intoleransi terhadap makanan tertentu.
    Faktor penyebabnya harus ditentukan, agar dapat ditentukan tindakan yang
    bijaksana.
2. Diare adalah penyakit umum, jadi tidak berbahaya
    Diare dengan dehidrasi berat mengancam jiwa anak dan menjadi salah satu
    penyebab kematian bayi/anak
3. Pemberian antibiotika pada setiap anak diare
    Kebanyakan diare tidak disebabkan oleh bakteri, sehingga pemberian antibiotika
    tidak selalu merupakan tindakan yang bijaksana. Kerap kali orang tua menunjukkan
    ketidakpuasannya jika dokter tidak memberikan antibiotika. Antibiotika bahkan jika
    dapat memperlama kesembuhan diare.
4. Pemberian obat anti diare pada anak
    Obat anti diare yang dimaksudkan untuk segera menghentikan diare tidak
    direkomendasikan karena sebagian terbukti tidak bermanfaat dan sebagian yang lain 
    justru membahayakan.  
5. Penghentian pemberian susu atau makanan pada anak diare
    Penghentian makanan atau susu hanya dilakukan pada anak dengan dehidrasi berat
    selama resusitasi cairan dan makanan segera diberikan secara bertahap setelah anak
    terehidrasi. Bila tidak ada dehidrasi berat, makanan harus tetap diberikan, kecuali
    jika diare berhubungan dengan penggantian susu atau pemberian makanan tertentu.

konsep personal hygiene

Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat pentinu dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan , sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan.
Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseoang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseoran untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
Fisiologi Kulit
Sistem integumen terdiri atas kulit, lapisan subkutan di bawah kulit dan pelengkapnya, seperti kelenjar dan kuku. Kulit terdiri atas 2 lapisan yaitu lapisan epidermis yang terdapat pada bagian atas yang banyak mengandung sel-sel epitel. Sel-sel epitel ini mudah sekali mengalami regeneras. Lapisan ini tidak mengandung pembuluh darah.
Lapisan kedua adalah lapisan dermis yang terdiri atas jaringan otot, saraf folikel rambut dan kelenjar. Pada kulit terdapat 2 kelenjar : pertama kelnejar sebasea yang menghasilkan minyak yang disebut sebun yang berfungsi meminyaki kulit dan rambut. Kedua, kelenjar serumen yang terdapat dalam telingga yang berfungsi sebagai pelumas dan berwarna cokelat.
Fungsi Kulit :
  1. Proteksi tubuh
  2. Pengaturan temperatur tubuh
  3. Pengeluaran pembuangan air
  4. Sensasi dari stimulus lingkungan
  5. Membantu keseimbangan carian da eletrolit
  6. Memproduksi dan mengabsorpsi vitamin D
Macam-macam Personal Hygiene
  1. Perawatan kulit kepala dan rambut
  2. Perawatan mata
  3. Perawatan hidung
  4. Perawatan telingga
  5. Perawatan kuku kaki dan tangan
  6. Perawatan genetalia
  7. Perawatan kulit seruruh tubuh
  8. Perawatan tubuh secara keseluruhan
Tujuan Personal Hygiene
  1. Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
  2. Memelihara kebersihan diri seseorang
  3. Memperbaiki personal hyiene yang kurang
  4. Mencagah penyakit
  5. Menciptakan keindahan
  6. Meningkatkan rasa percaya diri
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
  1. Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
  1. Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene
  1. Status sosial-ekonomi
Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya
  1. Pengetahuan
Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya.
  1. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan.
  1. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.
  1. Kondisi fisik
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hyiene
  1. Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
  1. Dampak Psikososial
Masalah social yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

Mencuci tangan dengan sabun

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas).
Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus, dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditularkan [1])
PBB telah mencanangkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia. Ada 20 negara di dunia yang akan berpartisipasi aktif dalam hal ini, salah satu di antaranya adalah Indonesia.

Sabun untuk mencuci tangan

Mencuci tangan saja adalah salah satu tindakan pencegahan yang menjadi perilaku sehat dan baru dikenal pada akhir abad ke 19. Perilaku sehat dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negara-negara kaya (maju) pada akhir abad 19 ini. Hal ini dilakukan bersamaan dengan isolasi dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi.
Mencuci tangan dengan air saja lebih umum dilakukan, namun hal ini terbukti tidak efektif dalam menjaga kesehatan dibandingkan dengan mencuci tangan dengan sabun. Menggunakan sabun dalam mencuci tangan sebenarnya menyebabkan orang harus mengalokasikan waktunya lebih banyak saat mencuci tangan, namun penggunaan sabun menjadi efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan digosok dan bergesek dalam upaya melepasnya. Didalam lemak dan kotoran yang menempel inilah kuman penyakit hidup. Efek lainnya adalah, tangan menjadi harum setelah dicuci dengan menggunakan sabun dan dalam beberapa kasus, tangan yang menjadi wangilah yang membuat mencuci tangan dengan sabun menjadi menarik untuk dilakukan.

Kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun

Ditempat tempat dimana mencuci tangan merupakan praktik umum yang dilakukan sehari-hari, dan banyak terdapat sabun dan air bersih, orang tidak menyadari untuk mencuci tangannya dengan sabun. Sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa hanya separuh orang yang benar-benar mencuci tangannya setelah membuang hajat besar/ kecil. Penelitian lain di Amerika Serikat pada dokter-dokter disana terungkap bahwa dokter banyak lupa mencuci tangannya setelah menangani pasien satu dan berganti ke pasien lainnya dengan frekuensi yang cukup tinggi. Para staf kesehatan sepenuhnya mengerti betapa pentingnya mencuci tangan dengan sabun, namun hal ini tidak dilakukan karena: ketidadaan waktu (tidak sempat), kertas untuk pengeringnya kasar, penggunaan sikat yang menghabiskan waktu [2] dan lokasi wastafel yang jauh dimana tangan harus berkali-kali dicuci menggunakan sabun dan dikeringkan sehingga merepotkan.
Pencucian tangan khusus dalam lingkungan medis biasanya membutuhkan banyak sekali sabun dan air untuk memperoleh busa dan saat telapak tangan digosok secara sistematis dalam kurun waktu 15-20 detik dengan teknik mengunci antar tangan, setelah tangan dikeringkan pun para tenaga medis tidak diperkenankan untuk mematikan air atau membuka pegangan pintu, apabila hal ini mereka harus lakukan, tangan harus dilidungi dengan kertas tisyu atau handuk kering bersih [3].
Pada lingkungan pemukiman yang padat dan kumuh, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dengan benar dapat menurunkan separuh dari penderita diare. Penelitian ini dilakukan di Karachi, Pakistan dengan intervensi pencegahan penyakit dengan melakukan kampanye mencuci tangan dengan sabun secara benar yang intensif pada komunitas secara langsung. Komunitas yang mendapatkan intervensi dan komunitas pembanding yang mirip yang tidak mendapatkan intervensi menunjukkan bahwa jumlah penderita diare berkurang separuhnya.
Keterkaitan perilaku mencuci tangan dengan sabun dan penyakit diare, penelitian intervensi, kontrol kasus, dan lintas sektor dilakukan menggunakan data elektronik dan data yang terkumpul menunjukkan bahwa risiko relatif yang didapat dari tidak mencuci tangan dari percobaan intervensi adalah 95 persen menderita diare, dan mencuci tangan degan sabun dapat mengurangi risiko diare hingga 47 persen [4].

Jenis sabun untuk mencuci tangan

Segala jenis sabun dapat digunakan untuk mencuci tangan baik itu sabun (mandi) biasa, sabun antiseptik, ataupun sabun cair. Namun sabun antiseptik/ anti bakteri seringkali dipromosikan lebih banyak pada publik. Hingga kini tidak ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa sabun antiseptik atau disinfektan tertentu dapat membuat seseorang rentan pada organisme umum yang berada di alam[5].
Perbedaan antara sabun antiseptik dan sabun biasa adalah, sabun ini mengandung zat anti bakteri umum seperti Triklosan yang memiliki daftar panjang akan resistensinya terhadap organisme tertentu. Namun zat ini tidak resisten untuk organisme yang tidak terdapat didaftar, sehingga mereka mungkin tidak seefektif apa yang diiklankan[6].

Mencegah penyakit

Diagram F transmisi penyakit diambil dari sumber: Wagner dan Lanoix
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA, yang keduanya menjadi penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta anak-anak diseluruh dunia meninggal sebelum mencapai umur lima tahun karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan dengan sabun juga dapat mencegah infeksi kulit[7], mata [7], cacing yang tinggal di dalam usus [7], SARS, dan flu burung[8].
Pada sebuah penelitan yang dipublikasikan Jurnal Kedokteran Inggris (British Medical Journal) pada November 2007 menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan menggunakan masker, sarung tangan, dan pelindung, bisa jadi lebih efektuf untuk menahan penyebaran virus ISPA seperti flu dan SARS. Temuan ini dipublikasikan setelah Inggris mengumumkan bahwa mereka menggandakan obat-obatan anti virus sebagai persiapan pandemik flu yang mungkin terjadi dimasa depan. Berdasarkan 51 riset, peneliti menemukan bahwa pendekatan melalui perlindungan fisik yang murah sebaiknya diberikan prioritas dalam rencana nasional mengatasi pandemik flu, saat bukti-bukti banyak menunjukkan bahwa penggunaan vaksin dan obat-obatan anti virus tidak efisien untuk menghentikan penyebaran influenza.
Ke 51 penelitian ini membandingkan intervensi untuk mencegah penularan virus ISPA dari binatang ke manusia atau manusia ke manusia dengan isolasi, karantina, menjauhkan diri secara sosial, perlindungan diri dan perlindungan melalui perilaku sehat, intervensi lainnya hingga tidak melakukan apapun juga. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa secara individual mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, sarung tangan dan pelindung lebih efektif untuk menahan laju penyebaran virus ISPA, dan lebih efektif lagi bila dikombinasikan. Para peneliti juga akan mengadakan evaluasi lanjutan akan kombinasi manakah yang terbaik untuk diterapkan. Penelitian lainnya yang dibulikasikan oleh Cochrane Library journal pada Oktober 2007 menemukan bahwa mencuci tangan dengan air dan sabun adalah cara yang sederhana dan efektif untuk menahan virus ISPA, mulai dari virus flu sehari-hari hingga virus pandemik yang mematikan [9].
Sebuah penelitian lain tentang kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa perilaku sehat seperti mencuci tangan dengan sabun kurang dipromosikan sebagai perilaku pencegahan penyakit, dibandingkan promosi obat-abatan flu oleh staf kesehatan. Hal ini diperparah apabila lokasi penduduk terpencil dan sulit terjangkau media cetak maupun elektronik (seperti radio dan TV) [10].

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan sabun

  1. Diare. Penyakit diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum untuk anak-anak balita. Sebuah ulasan yang membahas sekitar 30 penelitian terkait menemukan bahwa cuci tangan dengan sabut dapat memangkas angka penderita diare hingga separuh [11]. Penyakit diare seringkali diasosiasikan dengan keadaan air, namun secara akurat sebenarnya harus diperhatikan juga penanganan kotoran manusia seperti tinja dan air kencing, karena kuman-kuman penyakit penyebab diare berasal dari kotoran-kotoran ini. Kuman-kuman penyakit ini membuat manusia sakit ketika mereka masuk mulut melalui tangan yang telah menyentuh tinja, air minum yang terkontaminasi, makanan mentah, dan peralatan makan yang tidak dicuci terlebih dahulu atau terkontaminasi akan tempat makannya yang kotor. Tingkat kefektifan mencuci tangan dengan sabun dalam penurunan angka penderita diare dalam persen menurut tipe inovasi pencegahan adalah: Mencuci tangan dengan sabun (44%), penggunaan air olahan (39%), sanitasi (32%), pendidikan kesehatan (28%), penyediaan air (25%), sumber air yang diolah (11%) [12]
  2. Infeksi saluran pernapasan adalah penyebab kematian utama untuk anak-anak balita. Mencuci tangan dengan sabun mengurangi angka infeksi saluran pernapasan ini dengan dua langkah: dengan melepaskan patogen-patogen pernapasan yang terdapat pada tangan dan permukaan telapak tangan dan dengan menghilangkan patogen (kuman penyakit) lainnya (terutama virus entrentic) yang menjadi penyebab tidak hanya diare namun juga gejala penyakit pernapasan lainnya. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa praktik-praktik menjaga kesehatan dan kebersihan seperti - mencuci tangan sebelum dan sesudah makan/ buang air besar/kecil - dapat mengurangi tingkat infeksi hingga 25 persen [7]. Penelitian lain di Pakistan menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun mengurangi infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan pnemonia pada anak-anak balita hingga lebih dari 50 persen[13].
  3. Infeksi cacing, infeksi mata dan penyakit kulit, . Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi saluran pernapasan penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi kejadian penyakit kulit; infeksi mata seperti trakoma, dan cacingan khususnya untuk ascariasis dan trichuriasis.

Perilaku dan penelitian tentang mencuci tangan dengan sabun di dunia

Peternakan kuman, ilustrasi untuk mencuci tangan dengan sabun
Berbagai macam masyarakat di dunia mencuci tangan dengan sabun untuk alasan yang berbeda-beda, walaupun pada umumnya perilaku mencuci tangan dengan sabun itu secara luas diketahui untuk membersihkan tangan dari kuman namun perilaku ini tidak otomatis dilakukan untuk tujuan tersebut.
  • Sebuah studi awal dengan pendekatan kualitatif di Kerala, India menunjukkan bahwa orang dewasa menginginkan tangan yang bersih atas dasar kenyamanan, tangan yang tidak bau, menunjukkan kecintaan mereka terhadap anak-anaknya, dan mempraktikkan tanggung jawab sosial mereka dalam masyarakat.
  • Di Ghana, tercatat 25 persen dari seluruh kematian yang dialami oleh balita adalah diakibatkan oleh diare, penyakit ini juga menjadi tiga besar penyakit yang diderita oleh anak-anak. Balita umumnya mengalami tiga hingga lima kali diare selama satu tahun dan jumlah yang kurang lebih sama dialami oleh penderita penyakit infeksi pernapasan. Perhitungan ini berarti 9 juta kejadian penyakit diare dapat dicegah setiap tahunnya dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Penduduk di Ghana adalah pengguna sabun yang aktif, mereka membeli banyak sabun untuk kebutuhan sehari-harinya. Namun hampir seluruh sabun digunakan untuk mencuci piring dan mandi. Pada penelitian mendasar yang dilakukan di Ghana, 75 persen ibu rumah tangga mengaku telah mencuci tangan mereka dengan sabun, namun setelah dilakukan penelitian terstruktur, ternyata hanya 3 persen yang benar-benar melakukannya, sementara 32 persen hanya mencuci tangan mereka dengan air. Beberapa alasan mengapa ibu-ibu ini menggunakan sabun karena mereka merasa merasa tangan terasa bersih dan segar setelah kotoran terlepas, mencuci tangan ddengan sabun juga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa mereka menyayangi anak mereka, dan pada saat yang sama meningkatkan status sosial mereka. Kampanye mencuci tangan dengan sabun dimulai pada tahun 2003 di Ghana melibatkan masyarakat dan pihak swasta (Procter & Gamble) dan pada tahun 2007 menunjukkan 13 persen kenaikan perilaku mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet dan 41 persen kenaikan perilaku mencuci tangan dengan sabun sebelum makan [14].
  • Indonesia perilaku sanitasi pada umumnya diperkenalkan melalui program pemerintah pada tahun 1970, dimana masyarakat diajarkan untuk menggunakan MCK dan mandi dua kali sehari (Lumajang, Jawa). Lalu program ini dilanjutkan dengan memperkenalkan perilaku sehat mencuci tangan dengan sabun sebelum makan di sekolah-sekolah dasar. Guru dan staf kesehatan bersama membuat tempat air (dari kaleng cat bekas atau ember plastik, apapun yang tersedia) untuk digunakan oleh anak-anak. Lalu para staf kesehatan melatih guru untuk memeriksa kebersihan para muridnya. Di Pakel, Lumajang, guru juga menyimpan catatan kebersihan anak didiknya untuk melihat apakah perilaku mereka berubah, dalam catatan terlihat bahwa selain penurunan tingkat absensi (tidak sekolah), kini anak-anak juga menjadi rajin beribadah tengah hari karena tersedianya air untuk wudhu, yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan karena kesulitan akses air. [15]. Di daerah lain di Indonesia perilaku mencuci tangan dengan sabun juga diperkenalkan melalui program dokter kecil di tahun 2007 [16]. Dalam sinetron Si Entong yang ditayang di TPI pada 31 Agustus 2008 [17], tampak Entong menjadi pelaku penyuluhan cilik mengajak masyarakat untuk mencuci tangan di pos kesehatan di kediamannya. Perilaku mencuci tangan dengan sabun untuk memutus mata rantai penularan penyakit juga menjadi salah satu strategi nasional oleh Departemen Kesehatan dengan tujuan membangun masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Strategi STBM ini juga merupakan implementasi strategi utama Departemen Kesehatan yaitu untuk memobilisasi dan memberdayakan masyarakat agar memilih hidup sehat [18].
  • Pada sebuah penelitian di Filipina yang dipublikasikan oleh Bank Dunia pada tahun 2008 perilaku praktik-pratek kesehatan yang baik, seperti mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi biaya-biaya kesehatan hingga US$455 juta dollar. Sumbangan terbesar dari angka ini terkait dengan angka kematian (yang menjadi biaya terbesar), dan biaya lainnya terkait dari dampak ekonomi seperti kehilangan kesempatan (waktu) untuk sekolah dan memperoleh pendidikan karena sakit, hilangnya waktu produktifitas anggota keluarga karena harus mengurus penderita, biaya-biaya yang harus dibayar di fasilitas kesehatan termasuk biaya administrasi, obat, penanganan kesehatan, dan transportasi. [19].
  • Pakistan
  • Upaya mensosialisasikan perilaku sehat sanitasi dan mencuci tangan dengan sabun di Nigeria dimulai oleh sebuah program yang diprakarsai oleh UNICEF dengan menggunakan anak sekolah sebagai agen perubahan. Dalam membentuk perilaku sanitasi mandiri dan pengetahuan akan hidup yang bersih dan sehat anak-anak sekolah dirangsang untuk membentuk kelompok kelompok sekolah seperti klub sehat & hak untuk anak, yang melibatkan orang tua dan mengajak partisipasi komunitas di desa untuk ikut serta dalam proyek-proyek sanitasi. Salah satu sekolah memprakarsai Klub Lingkungan Sehat dimana para murid mempromosikan perilaku mencuci tangan dengan sabun untuk komunitas dan memperkenalkan teknik-teknik untuk menjaga kebersihan air dalam penggunaannya sehari-hari di rumah dan berusaha agar pengetahuan untuk hidup bersih ini diterapkan dirumah. Dengan pertolongan dari guru-guru sekitar 12 anak perempuan dan 18 anak lelaki yang mendirikan klub lalu mengoperasikan dan merawat fasilitas klub serta mengawasi penggunaan sumur bor. Klub tersebut membiayai aktivitasnya dengan menjual ember plastik dan bejana tembikar yang dilengkapi dengan keran. Dua tahun setelah intervensi ini, perilaku mencuci tangan dengan sabun meningkat hingga 95 persen. Guru mulai melaporkan bahwa para murid datang kesekolah dalam keadaan bersih, dan kasus cacingan serta penyakit-penyakit kulit lainnya berkurang. Tidak hanya itu, angka kehadiran murid pun naik dengan teratur per tahunnya, dari 320 murid ketika program pertama kali diperkenalkan, hingga 538 murid pada tahun 2001.
  • Malawi [20]
  • Australia [21][22]
  • Selandia Baru [23]

Referensi

  1. ^ (Inggris) Lorna Fewtrell, Kaufmann R.B., Kay D., Enanoria W., Haller L., dan Colford J.M.C., Jr 2005. "Water, sanitation, and hygiene interventions to reduce diarrhoea in less developed countries: A systematic review and meta analysis." The Kancet Infectious Diseases, Vol. 5, Issue 1:42-52. Also, Curtis, V. and Cairncross, S. 2003. "Effect of washing hands with soap on diarrhoea risk in the community: A systematic review." The Lancet Infetious Diseases, Vol.3, May 2003, pp 275-281.
  2. ^ (Inggris)Mencuci tangan dengan sabun ganda dibarengi oleh sikat HACCP
  3. ^ (Inggris) APIC Guidelines for handwashing and hand antisepsis in health care settings American Journal of Infection Control. 1995;23:251-269
  4. ^ (Inggris) Effect of washing hands with soap on diarrhoea risk in the community: a systematic review. The Lancet Infectious Diseases , Volume 3 , Issue 5 , Pages 275 - 281 V . Curtis , S . Cairncross
  5. ^ Weber DJ, Rutala WA (2006). "Use of germicides in the home and the healthcare setting: is there a relationship between germicide use and antibiotic resistance?". Infect Control Hosp Epidemiol 27 (10): 1107–19. doi:10.1086/507964. PMID 17006819.
  6. ^ (Inggris) Clean hands from the CDC
  7. ^ a b c d (Inggris) Lembar Fakta WELL
  8. ^ (Inggris)Bank Dunia: Speak Out interview dengan Fran├žois Le Gall tentang Penyakit-penyakit pada hewan: Ancaman Global Baru
  9. ^ (Inggris) Reuters: Mencuci Tangan Dengan Sabun Lebih Berguna Untuk Pengendalian dibandingkan dengan Obat
  10. ^ (Inggris) Weak Links in the Chain II: A Prescription for Health Policy in Poor Countries
  11. ^ (Inggris) Lorna et al
  12. ^ (Inggris)Fewtrell et. al 2005
  13. ^ (Inggris) S.Luby, Agboatwalla M., Feikin D., Painter J., Billhimer W, Altaf A., and Hoekstra R (2004). "The Effect of handwashing on child health: A randomised controlled trail." The Lancet Vol.366, Issue 9481:225-33
  14. ^ (Inggris) New York Times: Warning Habbit May Be Good For You
  15. ^ (Inggris) World Bank Report: Making Services Works for The Poor, Nine Case Studies from Indonesia. P. 109 Case Study 5
  16. ^ (Indonesia) Suara Karya Online: Dokter Kecil, Sang Ujung Tombak Budaya Sehat
  17. ^ Tayangan TPI, Sinetron si Entong: 31 Agustus 2008
  18. ^ (Indonesia) Kompas: Terapkan Sanitasi Total Berbasiskan Masyarakat
  19. ^ Bank Dunia: Dampak Ekonomi di Filipina, Studi Kasus di Kamboja, Indonesia, Laos, Filipina, dan Vietnam oleh ESI
  20. ^ (Inggris) Unicef Malawi
  21. ^ (Inggris) Hand washing understanding and behaviour by Australian consumers
  22. ^ (Inggris) Spreading more than good will
  23. ^ (Inggris) New Zealand Scoop Health Independent News: PHA: Some School Handwashing Facilities Appalling

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
logo

 
Powered by Blogger